Thursday, April 28, 2016

Kelas Inspirasi Bandung Gelar Pameran Foto

Bandung - Masih dalam rangka memperkenalkan gerakan Kelas Inspirasi (KI) dan menumbuhkan kepedulian masyarakat di bidang pendidikan, Minggu (29/3) relawan KI Bandung menggelar acara pameran foto KI.

Acara pameran foto KI bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan 5, Bandung.

Dalam acara tersebut dipamerkan 72  foto hasil karya relawan dokumentator dan 20 foto pilihan hasil kurasi oleh Galih Sedayu. Foto-foto tersebut merupakan foto yang diambil pada saat pelaksanaan hari KI pada tanggal  18 Februari 2015 yang dilaksanakan di 72 Sekolah Dasar (SD).

Tujuan di adakan KI untuk mengapresiasi relawan pengajar dan relawan dokumentator yang telah mendokumentasikan selama pelaksanaan KI.

“Kita berharap orang-orang yang tidak tahu kelas inspirasi akhirnya bisa tau dan mereka bisa lihat aktivitasnya lewat pameran KI ini dan ikut terlibat di tahun selanjutnya,” ujar koordinator pelaksana KI, Ibrahim Imaddudin Islam (25).

Para relawan KI turut mengambil peran dalam pendidikan anak bangsa dan  berbagi cerita yang dapat menumbuhkan cita. “Kita bisa langsung terjun langsung untuk memperlihatkan kepada pemerintah kondisi pendidikan kita dan memberi ilmu dan menginspirasi kepada murid-murid SD,” ujar relawan dokumentator, Agvi Firdaus (24).

Komunitas Fotografi Gelar Bandung Photo Showcase 2015

Bandung – Komunitas Fotografi Bungkus! Bandung Photography Now, KOMVNI Photo Collective dan Institut Francais Indonesia (IFI) berkolaborasi membuat acara perdana Bandung Photo Showcase yang di selenggarakan di berbagai tempat di Bandung dari 7 Maret hingga 29 Maret 2015.

Rangkaian acara dibangun dalam tiga aspek, yaitu pameran, diskusi, serta pendidikan.
Salah satu acara besarnya di Bandung Photo Showcase adalah pameran yang di gelar di Selasar Sunaryo Art Space. Pameran yang bertema Les Elegants ( orang-orang elegan ) adalah hasil karya Francoise Huguier, seorang fotografer dokumenter dan fesyen senior dari Perancis.

Pameran foto ini mengangkat tentang keadaan-keadaan di daerah Bandung. Pameran ini terbagi atas tiga seri, yaitu seri hijab, seri anak, dan seri komunitas metal.

Pada seri hijab Francoise Huguier ingin mengaitkan budaya model hijab dalam konteks adi busana khas Perancis. Fenomena hijab merepresentasikan adanya pencarian estetik sekaligus religius yang dicari oleh perempuan-perempuan muda. “Hijab sekarang bukan lagi jadi penutup aurat tetapi sudah menjadi fesyen,” ujar Programmer Selasar, Rani (24).

Dari fenomena tersebut Francoise Huguier meminta beberapa model perempuan berhijab tampil dalam beberapa pose di depan latar belakang yang bernuansa kitsch yang mewakili peradaban abad pertengahan di Eropa. Karya ini menggaris bawahi lapisan-lapisan paradoks yang ada di kepala Huguier saat melihat fenomena hijab.

Pameran Les Elegants tidak hanya memperlihatkan representasi historis dan sosiologis dari sebuah fenomena di Bandung yang ada di foto Huguier. Foto-foto tersebut mendokumentasikan bagaimana identitas tidak berada dalam wilayah yang ajeg dan konsisten.

Selain menampilkan hasil fotonya,  Huguier menampilkan slide show rangkuman foto-foto dari awal ia mendokumentasikan sampai sekarang. “mungkin dengan di adakan event ini bisa memunculkan para komunitas-komunitas, fotografer atau apapun yang bergerak di bidang foto bisa ikut bergabung dan semakin semarak” tuturnya.

Pameran Les Elegants ini menarik banyak perhatian pengunjung. “pameran ini sangat bagus karena lebih melihatkan karakter foto dari fotografernya. Semoga pameran ini sering diadakan,” ujar salah satu pengunjung, Reza (20).

Mahasiswa DKV Itenas Pamerkan Berbagai Produk Problem Solving

BANDUNG - Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Nasional (ITENAS), Bandung, menggelar pameran How & Why Supermarket Design dari 23 Februari hingga 27 Februari 2015.

Tujuan diadakan pameran ini untuk lebih memahami keahlian para desiner visual yang sudah berkembang dan siap ditempatkan sebagai seorang problem solver di berbagai bidang.


Pameran digelar di lantai dasar gedung 19A DKV Itenas. Pameran ini menampilkan karya dari 52 peserta yang merupakan hasil berpikir selama empat bulan sebagai tugas akhir DKV. Terdapat empat kategori dalam pameran ini yaitu kesehatan, sosial, budaya, dan umum.

Konsep pameran How & Why Supermarket Design merupakan bentuk apresiasi pembelajaran, pemikiran, perancangan karya di DKV dan dirancang untuk kebutuhan masyarakat.

Melalui Pameran ini diharapkan agar masyarakat sekitar mengakui bahwa desainer adalah profesi. “Kebanyakan masyarakat memandang desainer itu seperti tukang gambar, tukang setting. Kita disini berpikir, belajar. Kita punya teori dan akhirnya berubah menjadi wujud visual itu sendiri,” ujar ketua pelaksana, Prinsa (21), Rabu (25/02/2015).


Salah satu karya yang dipamerkan adalah sebuah Mobile Apps. Keunggulan dari produk ini dapat diandalkan untuk mencari zona aman untuk berselancar, nearby, hotel, tempat makan dan informasi-informasi yang sangat lengkap untuk berlibur di kota Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Kalau mau liburan di kota Lombok dan ingin berselancar harus mencari tahu zona aman kepada masyarakat disana. Mereka akan menjawab kalau di kasih imbalan dulu. Saya melihat satu masalah ini dan dijadikan satu kesempatan bagi saya untuk membuat produk ini,” ujar pembuat Mobile Apps, Prabu (23).

Keanekaragaman produk Problem Solving yang dibuat oleh mahasiwa DKV menarik banyak perhatian pengunjung. “Harapan untuk pameran selanjutnya semakin eksis di Bandung dan bisa mengangkat nama DKV Itenas sendiri,” pungkasnya.

Pusat Kota Garut Bebas PKL

Jalan Ahmad Yani, Kota Garut, yang berada di pusat kota biasanya dipadati dengan Pedagangan Kaki Lima (PKL), terhitung lima hari sejak hari raya Idul Fitri sudah terbebas dari PKL dan arus lalu lintas menjadi menjadi lancar.

PKL direlokasi ke Gedung PKL yang berada di Jalan Guntur, Kota Garut. PKL yang menggunakan gerobak tidak direlokasi ke Gedung PKL, untuk sementara ditempatkan disekitar Gedung Islamic Center di Jalan Pramuka, Kota Garut.

Penertiban PKL dilaksanakan berdasarkan Perda No 2 tahun 1988 tentang Kebersihan, Keindahan, dan Ketertiban (K3).

“Pembongkaran PKL ini dilakukan ketika malam takbiran pukul 00.00 sudah ditiadakan hingga saat ini dan direlokasi ke Gedung PKL di Jalan Guntur,” ungkap Kabid Limnas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Permana (55), Rabu (22/07).

Relokasi PKL tidak dipungut biaya, tetapi akan ada biaya pemeliharaan gedung. Sejak Gedung PKL diresmikan pada Rabu 15 Juli 2015 baru sebagian PKL yang menempati gedung tersebut. “Sejak diresmikan harusnya PKL sudah memasuki gedung tersebut, tetapi sampai sekarang belum juga karena pendapat pedagang katanya masalah tempat berjualannya itu belum memadai,” jelasnya.

Puluhan Satpol PP disiagakan disepanjang Jalan Ahmad Yani, Kota Garut, guna menertibkan para PKL yang membandel. Penyiagaan Satpol PP akan terus dilaksanakan hingga PKL sepenuhnya sudah dipindahkan.

“Kami jajaran Satpol PP akan terus bersiaga selama para PKL belum semuanya masuk ke Gedung PKL, untuk para pedagang yang masih membandel, kami pihak Satpol PP akan menindak melalui Tindak Pidana Ringan (Tipiring), itu sanksi hukum selama tiga bulan,” pungkasnya.

Tarian Vijayakusumah Bentuk Intropeksi Generasi Muda Perempuan

Bandung – Dalam rangka memeringati Hari Perempuan Internasional, Suci Priwasa koreografer asal provinsi Riau menampilkan satu repertoar tari tunggal yang berjudul “Vijayakusumah” di Monumen eks menara jaga sel Banceuy, Bandung, Minggu (8/3).

Repertoar tari Vijayakusumah terinspirasi dari bunga langka yang bernama Wijayakusumah.

Tari ini merupakan bentuk intropeksi terhadap kondisi generasi muda perempuan sekarang.

Ada banyak tokoh perempuan yang dapat dijadikan suri tauladan seperti Inggit Garnasih, Dewi Sartika dan Rd Ayu Lasminingrat. “Mereka adalah perempuan luar biasa, pengorbanan dan jasa-jasa mereka adalah demi kehormatan dan harkat derajat kaum perempuan,” ujar Suci.

Spirit ketiga tokoh itu akan tumbuh mekar dan menebarkan harumnya bagi generasi muda perempuan sekarang. “Semangat dan jiwa ketiga tokoh tersebut belum tertanam pada generasi muda kaum perempuan jaman sekarang,” tambahnya.

Melalui pertunjukan ini Suci ingin menyampaikan pesan agar kaum perempun mempunyai kekuatan, kokoh dalam menjaga harga diri dan martabatnya. “Saya berharap perempuan di era masa kini mau menggali spirit para tokoh tadi agar menjadi perempuan yang lebih berkarakter dan berkepribadian,” pungkasnya.

Generasi muda perempuan jaman sekarang belum sepenuhnya sadar untuk belajar berkaca dari sejarah dan pengorbanan tiga tokoh itu “Di jaman yang serba bebas ini kaum perempuan harus mampu menjaga harkat martabatnya,” ujar penggagas Kelompok Anak Rakyat, Gatot Gunawan.