Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

Thursday, May 19, 2016

Mahasiswa UIN Bandung: Dari Coba-coba Menjadi Usaha

Bermula sekedar hobi, Siti Lulu Aladawiya Suhendar, berumur 20 tahun mahasiswi UIN Bandung asal Cianjur mengembangkan bakatnya hingga sekarang menjadi pengusaha minuman Greentea yang sukses saat ini.

Wanita yang akrab disapa Lulu ini sejak SMP sering membantu orang tuanya berjualan di pasar. Bakat berwirausahanya tumbuh pada saat itu.

Dalam mengembangkan usaha minuman greenteanya, Lulu harus bisa membagi waktu antara kuliah, berwirausaha dan kesibukan di luar kampus. Di luar kampus ia aktif di organisasi Bandungoke TV, majalah yongkru, dan radio online Roi.

Pada tahun 2013, Lulu memulai eksperimen dengan memproduksi greentea dengan label Lotea. Dari mulai meracik, mengolah sampai memasukan minuman greentea ke dalam botol ia lakukan sendiri. Ia gencar mempromosikan label greenteanya di berbagai media sosial.

Bahkan ia tak segan untuk mengantarkan pesanan kepada konsumen seorang diri.

Sehingga konsumennya terus bertambah banyak. Dengan ketekunan, kerajinan, dan kemahiran yang Lulu miliki ia akhirnya bisa mendapatkan peminat yang banyak.

Keberhasilan Lulu mengembangkan usahanya seperti saat ini, tentu tidak lepas dari mental bajanya yang pantang menyerah.

Dari hasil berjualannya, ia mampu memenuhi beberapa kebutuhan sehari-hari dengan uang sendiri tanpa harus menunggu kiriman dari orang tuanya.

Untuk beberapa bulan ke depan, ia menjanjikan akan membuat beberapa produk baru sebagai variasi.

Dalam sebulan Lulu dapat berpenghasilan cukup. Selain berwirausaha untuk mencari keuntungan, ia juga menjadi inspirasi bagi teman-teman dan keluarganya. Lulu adalah salah satu mahasiswi UIN Bandung yang sukses menjadi pengusaha muda.

Ketika Kamera Meninggalkan Cerita

 Ketika Kamera Meninggalkan Cerita


Orang-orang dirampas haknya.
Aku bernyanyi menjadi saksi.
Orang-orang hilang nafkahnya.
Aku bernyanyi menjadi saksi.
Kenyataan harus dikabarkan.
Aku bernyanyi menjadi saksi.


Bait puisi “Kesaksian” racikan WS Rendra menggema di antara remang-remang malam Di bawah . Pohon Rindang (DPR) UIN SGD Bandung. 

Diterangi lampu sorot berwarna kuning, seratus foto jurnalistik nampak elegn dibalut suasana malam. Orang-orang berkerumun untuk menghadiri diskusi, serta menikmati pertunjukan musik dan seni yang dihiasi bingkai-bingkai foto.

Pertunjukan itu berlangsung sat penutupan pameran foto jurnalistik dengan tema “Eye Story” yang diselenggaran oleh komunitas Photo’s Speak yang berada dibawah naungan BEM-J Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Terhitung dari tanggal sembilan hingga dua belas september lalu, Photo’s Speak berhasil menarik perhatian masyarakat UIN SGD Bandung dengan seratus buah karyanya. Pada tiga hari pertama, pameran berlangsung di Auditorium UIN SGD Bandung dan sisanya digelar di DPR.

Photo's Speak Gelar Tiga Kali Pameran 

Sejak berdiri empat tahun lalu, komunitas Photo’s Speak telah menggelar pameran foto sebanyak tiga kali. Setelah sukses dengan pameran foto bertema “Foto sebagai Media Perubahan” pada tahun 2012, dan “Kaleidoskop Photo’s Speak” pada tahun 2014, tahun ini Photo’s Speak mengambil tema “Eye Story”.

“Pameran foto ini artinya cerita dibalik mata. Maksudnya, kita menginginkan bahwa seorang fotografer bisa menceritakan dan memberikan cerita dibalik mata mereka kepada khalayak umum melalui media foto,” ungkap ketua Pelaksana Achmad Nugraha, Senin (7/9).

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik yang akrab disapa Nunu tersebut memaparan pameran “Eye Story” dibagi ke dalam sembilan kategori, antara lain: spot news, general news, people in the news, scence and technology, potrait, sport, art and culture, social and environment, dan daily life.

Thursday, April 28, 2016

Dany, Satpam Muda Tulang Punggung Keluarga

Satpam, profesi yang hanya di pandang rendah oleh sebagian orang. Namun tidak banyak orang mengira bahwa menjadi seorang satpam adalah pekerjaan yang mulia. Itulah profesi yang sampai saat ini masih dijalani Dany Firmansyah.

Satpam muda yang baru berusia 20 tahun ini memiliki perawakan tinggi dan berkharismatik mempunyai cita-cita tinggi.

Lelaki ini mengaku bahwa dirinya masih punya cita-cita yang lebih dari sekedar satpam, yaitu ingin menjadi seorang polisi. Karena terkendala dengan biaya, ia tidak bisa mewujudkan mimpinya tersebut.

Pekerjaan yang sudah digelutinya sekarang sangat di syukuri benar-benar olehnya. Kehidupan yang serba berkecukupan tak membuat lelaki yang berprofesi sebagai satpam di Universitas Islam Negeri Bandung ini berhati kecil. Ia menjalani pekerjaannya sehari-hari dengan penuh rasa tanggung jawab yang besar.

Memang, sejak ayahnya bercerai, kakaknya menikah, kehidupan keluarga Dany mulai merosot. Semenjak itulah Dany menjadi tulang punggung keluarganya. Dengan kondisi ekonomi yang berkecukupan Dany berusaha dengan baik mengatur pengeluaran yang diperlukan oleh keluarganya.

Dany Donat, begitu sapaan dari teman-temannya. Walau hanya taman Sekolah Menengah Atas, tak menutupi pikirannya untuk terus bekerja dan bisa membahagiakan ibunya. Selain terkendala dengan biaya, alasan lain mengapa Dany memilih bekerja sebagai satpam adalah karena ia ingin bekerja di bidang keamanan. Ia memiliki semangat kerja yang tinggi, keluhnya tak pernah sedikitpun ia nampakkan. Hari-harinya selalu dihiasi senyuman indah dari bibirnya. Senyum lengkung yang selalu nampak sempurna dipandang.

Memiliki raut wajah yang tampan, berkharismatik dan perawakan yang tinggi membuat satpam muda ini mempunyai banyak penggemar rahasia. Namun hal tersebut tidak disadarinya dan tak terlalu ia hiraukan, karena menurutnya pekerjaan adalah prioritas yang paling penting. Ia telah nyaman dengan pekerjaannya karena orang-orang di sekitarnya ramah-ramah dan tidak pernah memposisikan diri mereka sebagai pejabat. Selama dua tahun bekerja ia tidak pernah menemukan kendala yang berarti. Ia tetap menjalani pekerjaan dengan penuh semangat.

Hobi Berbuah Rezeki

Wanggi Hoed, begitu biasanya ia dipanggil oleh teman-temannya. Sebuah Nama panggung karena aktivitas dan dedikasinya dalam dunia kesenian. Baik panggung seni maupun panggung publik yang menjadikan nama tersebut dikenal di Indonesia dan dunia.

Aktor yang baru berusia 27 tahun ini memiliki ciri khas kumis yang tebal dan melintir mirip dengan tokoh Tjokroaminoto. Berpenampilan sederhana, serta perawakannya yang kecil.

Ia berprinsip bahwa sebuah karya akan berbicara dengan jalannya sendiri. Baik di masa lalu dan masa yang akan datang. Ia mempengaruhi pikiran masyarakat pada generasinya.

Wanggi Hoediyatno lahir pada tanggal 24 Mei 1988. Di sebuah blok bekas pertahanan pada zaman penjajahan belanda bernama Benteng, Jalan Kyai Haji Agus Salim No. 98, Desa Pegagan, Kecamantan Palimanan, Kabupaten Cirebon 40265, Jawa Barat, Indonesia.

Alur hidup Wanggi Hoediyatno bisa dikatakan hampir mirip Charlie Chaplin. Sama-sama hidup sebagai seorang artis pantomime, aktor, dan juga penulis. Membandingkan sosok Wanggi dengan Charlie Chaplin mungkin tidak sepenuhnya tepat, tapi hidupnya penuh harapan dan cita-cita. Meskipun ia lahir bukan dari keluarga yang berlatar belakang dunia kesenian, tetapi ia terus menikmati kegelisahan untuk berkarya dalam berkeseniannya.

Wanggi merupakan anak ke empat dari lima bersaudara dari pasangan suami istri Rahudi Budiardjo dan Leli Sulaeli. Ayahnya adalah pensiunan pegawai negeri BUMN yang tegas dan bijak. Dan ibunya adalah ibu rumah tangga yang piawai dalam masak-memasak di dapur.

Wanggi seorang anak muda yang gemar berpetualang. Menjelajahi ruang dan waktu tiada batas dengan sebuah harapan dan cinta. Serta mimpi – mimpi dirinya yang akan terus mengalir, bergulir dan bergerak mengikuti roda zaman pada masanya. Ia terus belajar serta berjuang untuk masa depan dari generasi ke generasi dunia seni. Ia tidak pernah berhenti berkesenian.

Ia aktif turut serta berpartisipasi dalam berbagai acara atau kegiatan kebudayaan dan kesenian serta pelestarian lingkungan juga kemanusiaan. Baik dalam skala lokal, nasional, maupun international.

Mencintai Dunia Seni

Sejak kecil ia sudah mencintai dunia seni dan ia mulai aktif di dunia seni rupa, yaitu seni lukis. Ia sering memperoleh beberapa penghargaan atas karyanya tersebut. Sampai sekarang, di setiap waktu senggangnya ia selalu mengisi dengan coretan sketsa pada lembaran kertas.

Tapi setelah ia menduduki bangku kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), ia mengambil prodi penyutradaraan. Ia juga aktif di seni teater dan bergabung di kelompok teater bernama “Teater Cassanova”.

Tidak hanya terlibat sebagai aktor, ia pun sebagai divisi propaganda, jaringan komunikasi dan juga team artistik panggung. Tidak hanya dalam dunia seni, Wanggi juga ikut bergabung dalam hal-hal lain dalam kehidupan sehari-hari. Ia membentuk sebuah ruang untuk para pecinta sepeda onthel, yang diberi nama Komunitas Sepeda Kampus atau dikenal dengan Komunis Kampus.

Setelah ia mendapatkan gelar sarjana pada tahun 2012, ia mendirikan sebuah ruang seni pantomime bersama para seniman pantomime Bandung yang bernama “Imaji Mime Theatre” kemudian berevolusi menjadi “Mixi Imajimimetheatre Indonesia”. Ruang seni tersebut berperan penting dalam dunia seni pantomime di Bandung, Indonesia bahkan Internasional. Wanggi kini dikenal luas sebagai artis pantomime di Indonesia dan dunia.

Selain aktif di dunia seni teater, pantomime dan juga bersepeda, ia juga pernah terlibat di beberapa komunitas non-seni dan organisasi kemasyarakatan. Ia seringkali menggelar pentas pantomime di ruang publik, ruang budaya dan ruang seni lainnya.

Dalam dunia seni, seluruh konsep berkarya didasarkan pada pengetahuan interdisipliner, menekankan pendapat pribadi juga bersama melalui musyawarah kesepakatan, semua berdasar pengalaman dari perjalanan berkeseniannya.

Sosial Budaya 

Dalam proses berkeseniannya ia selalu mengangkat isu sosial budaya serta kemanusiaan juga pelestarian lingkungan yang terjadi di masyarakat yang sedang berkembang saat ini.

Ia memadupadankan dengan seni kekinian, kontemporer, modern juga budaya lokal yang menjadi satu kesatuan energi seni yang menjadikan nafas dalam daya cipta, karsa, serta rasa dengan bumbu yang harmoni berirama kedamaian hati serta jiwa dan juga mengganggu pikiran penikmat dalam karya-karyanya.

Ia pernah mempertunjukan karya seni pantomimenya di hadapan beberapa orang penting di Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti Ketua MPR RI Taufik Kiemas, Seniman yang familiar dengan kalimat “Jancuk” Sujiwo Tedjo, dan Seniman Bali yang dahulu terkenal dengan “Lady Rocker Indonesia” yaitu Ayu Laksmi.

Keberhasilannya terus berkembang sampai ia mendapatkan kesempatan berkolaborasi bersama dengan seniman dari kelompok Sirkus Teater Kontemporer Perancis “CHABATZ D’ENTRAR” yaitu Anne Keller, Olivier Leger, Damien Caufepe, Silvere Bartoux dan seniman dari Indonesia lainnya, yaitu Permata Andika Rahardja “Body Movement” dan Duo Pop Musik Elektronik Indonesia “BOTTLESMOKER” Angkuy dan Nobi.

Pertunjukan Sirkus Kontemporer yang berjudul “DI SINI, SEKARANG DAN DI SANA” menggunakan properti bambu, engrang dan beberapa barang-barang sehari-hari untuk menciptakan sebuah keseimbangan yang rapuh dan mempertemukan unsur tradisi dan moderenitas dalam essensi pertunjukannya, dengan dua konsep ruang pertunjukan yaitu di luar ruangan dan dalam ruangan.

Pertunjukan yang dipentaskan keliling ke luar kota sampai ke luar negeri, yaitu Medan, Makassar, Balikpapan, Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Dili Timor Leste dan Hanoi dan Ho Chi Minh di Vietnam.

Perjalanan tour Kolaborasi Sirkus Kontemporer yang sangat menyenangkan itu berlangsung selama dua bulan. Karya repertoar pantomimenya menjadi salah satu inspirasi dan pembicaraan banyak media massa, kalangan seni dan non-seni, dari anak-anak, pemuda hingga orang tua dan lanjut usia.

Dan kini, ia sedang melakukan riset, menuliskan tentang fenomena kesenian, penjelajahan dan eksplorasi dari sebuah perjalanan dirinya dalam mengangkat kembali bangunan cagar budaya di Indonesia “The Journey Explorer History Of Indonesia” dengan media seni pantomime.

Ia berupaya dan berusaha mempromosikan, mengkampanyekan serta saling mengingatkan juga mengenang kembali tentang seni, sejarah dan budaya Indonesia yang masih ada hingga kini.

Serta kepedulian dan kecintaannya terhadap lingkungan di sekitar dengan sebuah petualangan ke beberapa kota di Indonesia dan dunia, dengan cara perjalanan hemat ala traveller/backpacker dengan nama “Backpacker Nyasar Nyusur History Indonesia” melalui ruang seni silaturahmi sejarah budaya ini yang merupakan salah satu program kekaryaan dari Mixi Imajimimetheatre Indonesia.

 Atas keberhasilan yang telah ia peroleh, membuat lelaki yang memiliki kumis tebal dan melintir ini menjadi terkenal dan namanya diperbincangkan dimana-mana.

Pesona Tersembunyi di Pojok Bandung

Angin berhembus kencang menembus kulit sore itu di kawasan wisata Caringin Tilu, perjalanan menuju Puncak Bintang yang cukup jauh dengan kondisi jalan yang kurang bagus dan jalan yang berbelok-belok membuat para pengunjung kelelahan selama di perjalanan.

Namun, perjalanan yang panjang itu terbayar oleh pemandangan sawah dan bukit-bukit yang mewarnai perjalanan yang sangat memenatkan itu. Rasa tidak sabar pun menggebu saat hampir di Puncak Bintang.

Menuju Puncak Bintang membutuhkan jarak sekitar 8,5 KM dari arah kota Bandung atau sekitar 3 KM dari wisata Caringin Tilu (cartil). Meskipun terletak di pedalaman yang jauh dari keramaian kota, namun objek wisata alam ini tetap ramai di kunjungi karena di Puncak Bintang menghadirkan banyak pesona yang bisa membuat para pengunjung betah berada disana.

Udara Segar

Begitu sampai di objek wisata, pengunjung disambut oleh segarnya udara khas hutan pinus dengan pemandangan hamparan kota Bandung yang memanjang. Mulai dari perbatasan lembang hingga wilayah Bandung Timur, sungguh memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Tidak perlu khawatir merogoh kocek saku terlalu dalam, dengan hanya  delapan ribu rupiah saja pengunjung sudah bisa mendapatkan tiket masuk ke dalam tempat wisata ini.

Udara dingin yang menyergap tak menjadi penghalang bagi para pengunjung untuk datang melihat sunset. Jika cuaca cerah, semburat jingga cahaya sunset terlihat bias cahayanya menumpahi punggung bebukitan dan menimbulkan efek bayangan (siluet) cahaya yang menakjubkan, sungguh mempesona. Pemandangan seperti ini sepertinya hanya dapat ditemui di Puncak Bintang saja.

Selepas sunset pengunjung akan dimanjakan kerlip-kerlip lampu kota Bandung yang mulai menyala tampak serupa bintik-bintik cahaya yang menggoda mata pada detik-detik pergantian senja menuju malam. Tak hanya sunset, pengunjung juga dapat memanjakan matanya dengan melihat sunrise dan menghirup udara segar di pagi hari ketika berkemah disana.

Selain itu, Puncak Bintang memiliki lampu unik dengan warna-warni menarik dan tugu berbentuk bintang yang berukuran cukup besar. Saat malam, di samping latar pemandangan lampu kota Bandung, lampu bintang tersebut menjadi background favorit pengunjung saat berfoto. Keindahan alam yang mempesona itu juga tidak luput dari incaran para fotograper untuk memotret keindahan yang terbentang disana.

Objek alam yang natural dan fresh membuat para fotograper berlomba untuk mencari spot yang menarik. Kawasan yang indah, bersih dan eksotis ini membuat Puncak Bintang menjadi salah satu objek wisata alam yang hits di Bandung.